This is default featured post 1 title

A. Narkoba Narkoba singkatA. Narkoba narkobaNarkoba singkatan dari narkotika, obat dan bahan berbahaya adalah sekelompok obatan, bahan atau zat bukan makanan yang jika diminum, dihisap, ditelan, atau disuntukkan akan berpengaruh pada kerja tubuh, terutama otak dan sering menimbulkan ketergantungan. Menurut pengaruhnya pada kerja otak, narkoba dibagi menjadi 3 golongan obat yang: ° Memacu kerja otak, disebut stimulasi. Contoh nikotin, kokain,...next page

This is default featured post 1 title

Untuk menjadi pribadi yang bebas dari penyalahgunaan narkoba, seseorang yang mulai menginjak remaja, memang memerlukan perjuangan yang keras dan sungguh-sungguh. Sebuah penelitian menemukan lebih dari 70 persen remaja di Jakarta pernah ditawari narkoba. Bagaimana kita sebagai orangtua dapat mengenali remaja kita? Remaja seperti apa sebenarnya yang tahan terhadap godaan dan ajakan untuk menyalahgunakan narkoba? Dari beberapa penelitian....

This is default featured post 1 title

Ribuan Siswa SD Kecanduan Narkoba *Malang-RoL* — Sedikitnya 8.500 anak Sekolah Dasar (SD) di Indonesia mulai mengkosumsi bahkan sudah kecanduan narkoba. Kepala Pusat Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigjen Pol Mudji Waluyo, Kamis (6/12), mengatakan, jumlah siswa SD yang kecanduan narkoba itu merupakan data tahun 2006 lalu sehingga tidak menutup kemungkinan pada tahun 2007 ini jumlahnya meningkat. “Angka tertinggi konsumen narkoba anak-anak....

Jumat, 18 Juni 2010

Just Say No To Drugs

Initiation

The campaign emerged from a substance abuse prevention program supported by the National Institutes of Health, pioneered in the 1970s by University of Houston Social Psychology Professor Dr. Richard I. Evans. Evans's social inoculation model included teaching student skills to resist peer pressure and other social influences. The campaign involved University projects done by students across the nation. Jordan Zimmerman, a student at USF, won the campaign. Zimmerman is now the owner of Zimmerman Advertising, one of the largest advertising corporations in the world. The anti-drug movement was among the resistance skills recommended in response to low peer pressure, and Nancy Reagan's larger campaign proved to be a useful dissemination of this social inoculation strategy.[2]
Mrs. Nancy Reagan first became involved during a campaign trip in 1980 to Daytop Village, New York. She recalls feeling impressed by a need to educate the youth about drugs and drug abuse.[1] Upon her husband's election to the presidency, she returned to Daytop Village and outlined how she wished to help educate the youth.[1] She stated in 1981 that her best role would be to bring awareness about the dangers of drug abuse:
"Understanding what drugs can do to your children, understanding peer pressure and understanding why they turn to drugs is... the first step in solving the problem."[1]

[edit] Efforts in the United States and abroad

Nancy Reagan hosts the First Ladies Conference on Drug Abuse at the White House, 1985
"Just Say No" paraphernalia at the Reagan Library
The phrase "Just Say No" first emerged when Nancy Reagan was visiting Longfellow Elementary School in Oakland, California,[3] in 1982 and was asked by a schoolgirl what to do if she was offered drugs. The first lady responded by saying, "Just say no."[4] Just Say No club organizations within schools and school-run anti-drug programs soon became common, in which young people make pacts not to experiment with drugs.[5]
Nancy Reagan was asked about her efforts in the campaign, and said: "If you can save just one child, it's worth it."[6] She traveled throughout the United States and several other nations, totaling over 250,000 miles (400,000 km).[5] Mrs. Reagan visited drug rehabilitation centers and abuse prevention programs; with the media attention that the first lady receives, Nancy appeared on television talk shows, recorded public service announcements, and wrote guest articles.[5] By the autumn of 1985, she had appeared on 23 talk shows, cohosted an episode of Good Morning America, and starred in a two hour PBS documentary on drug abuse.[7] The campaign and the phrase "Just Say No" made their way into popular American culture when TV shows like Diff'rent Strokes and Punky Brewster produced episodes centered on the campaign. In 1983, Nancy Reagan appeared as herself in the television programs Dynasty and Diff'rent Strokes to garner support for the anti-drug campaign.[8] She participated in a 1985 rock music video "Stop the Madness" as well.[9] La Toya Jackson became spokesperson for the campaign in 1987 and recorded a song entitled "Just Say No" with British hit producers Stock/Aitken/Waterman.
In 1985, Nancy Reagan expanded the campaign internationally. She invited the First Ladies of thirty various nations to the White House in Washington, D.C. for a conference entitled the "First Ladies Conference on Drug Abuse".[5] She later became the first First Lady invited to address the United Nations.[5]
She enlisted the help of the Girl Scouts of America, Kiwanis Club International, and the National Federation of Parents for a Drug-Free Youth to promote the cause;[7] the Kiwanis put up over 2000 billboards with Nancy Reagan's likeness and the slogan.[7] Over 5000 Just Say No clubs were founded in schools and youth organizations in the United State and abroad.[7] Many clubs and organizations remain in operation around the country, where they aim to educate children and teenagers about the effects of drugs.[1]
Just Say No crossed over to the United Kingdom in the 1980s, where it was popularized by the BBC's 1986 "Drugwatch" campaign, which revolved around a heroin-addiction storyline in the popular children's TV drama serial Grange Hill. The cast's cover of the original U.S. campaign song, with an added rap, reached the UK top ten.[10]

[edit] Effects

Evidence suggests drug use and abuse significantly declined during the Reagan presidency.[11][12][13]University of Michigan, more young people in the 1980s were saying no to drugs.[11] High school seniors using marijuana dropped from 50.1% in 1978 to 36% in 1987,[11] to 12% in 1991[13] and the percentage of students using other drugs decreased similarly.[11] Psychedelic drug use dropped from 11% to 6%, cocaine from 12% to 10%, and heroin from 1% to 0.5%.[11] According to research conducted by the Institute for Social Research at the
While a direct relationship between reduced drug use and the Just Say No campaign cannot be established, Nancy Reagan's related efforts increased public awareness of the problem.[11]
The campaign drew some criticism, including that the program was too costly.[14] Author Jeff Elliott stated that the Reagan administration's synonymous use of the terms "drug use" and "drug abuse" was improper, and that drug use in America was underestimated; Dr. Michael Newcomb claimed that there is "no evidence that most people who experiment with drugs get hooked."[14] It was also argued that the program did not go far enough in addressing many social issues including unemployment, poverty, and family dissolution;[14] Nancy Reagan's approach to promoting drug awareness was also labeled simplistic by critics who argued that the solution was reduced to a catch phrase.[15]

See alsohttp://en.wikipedia.org/wiki/Just_Say_No

Kamis, 17 Juni 2010

MANTAN PENGGUNA NARKOBA YANG KINI “PERANGI” NARKOBA

Kandung Kemih Membesar Akibat Overdosis Narkoba


Surabaya, eHealth. Sekilas, mungkin Anda tidak akan mengetahui, bahwa seorang Rudhy Wedhasmara, SH dengan perawakan yang segar bugar ini merupakan mantan pengguna Narkoba. Jam terbangnya yang cukup tinggi bersama bulir-bulir memabukkan tersebut sudah tidak dapat diragukan lagi.

Salah satu ceritanya yang bisa membuat kepala kita bergeleng-geleng adalah ketika di usianya yang masih sangat belia, yakni kelas tiga SMA, sekitar 10 tahun yang lalu, Ia telah menjadi salah satu Bandar Gede di Surabaya dengan delapan anak buah kurir pengantar ‘pesanan’ para pelanggannya.

Hal yang lebih membuat kita tidak habis fikir adalah bahwa sang almarhumah Ibundanya saat itu merupakan Wakil Kepala Sekolah di SMAnya. Bagi Rudhy ‘Sinyo’ Wedhasmara atau yang akrab dipanggil dengan Rudhy Sinyo ini, menceritakan masa lalunya bukanlah masalah besar. “Yang penting hasil akhirnya sekarang ini,” ujar mantan pengguna dan pengedar Narkoba yang sekarang menjadi Koordinator Jaringan Korban Napza Jawa Timur atau East Java Action (EJA).

Awal Mula Mengenal Narkoba

Jika kelas tiga SMA Ia telah menjadi seorang Bandar Gede alias BD yang sukses menyebarkan ganja, sabu-sabu, ataupun minuman keras, maka pertanyaannya adalah sejak kapan Ia mulai mengenal dan merasakan buaian Narkoba? Ia pun memulai kisah yang telah membawanya belajar banyak hal mengenai kehidupan. “Saya merokok mulai TK, mulai minum anggur berlebihan ketika SD, dan akhirnya beranjak pada Narkoba atau tepatnya Ganja saat kelas 6 SD,” ujar pria yang baru saja melepas masa lajangnya pada awal bulan Juli ini.


Rasa tidak percaya pasti menghinggapi kepala kita tentang bagaimanakah seorang bocah lugu pada saat itu dapat mengenal dan akhirnya terjatuh pada lembah yang membahayakan nyawa. “Saat itu, lingkungan tempat saya tinggal sangat mempermudah akses pembelian minuman keras atau pun Narkoba,” ujar pria kelahiran Nganjuk ini. “Bahkan tukang becak pun memiliki ganja saat itu,” lanjutnya.

Ia mengakui bahwa lingkungan keluarga yang mayoritas perokok pun menjadi faktor utama sedangkan Kakaknya yang semata wayang pun saat itu beramai-ramai ‘memakai’ bersama teman-temannya. Informasi mengenai bahaya Narkoba belum sampai di telinga sampai akhirnya ia begitu terlena dengan indahnya dunia sementara yang ditawarkan oleh lintingan-lintingan ganja.

Tahun 1998, Ia harus melanjutkan sandiwara dunianya ini tanpa kehadiran seorang ayah yang telah meninggal terlebih dahulu. Namun, saat itu usianya masih belia, dan ketidakhadiran sang Ayah malah membuatnya bebas bermain-main dengan ganja bersama teman-temannya. “Karena saya ‘bermain cantik’, tidak terlalu banyak kasus yang terungkap saat itu,” jelas pria yang telah banyak mengisi acara bahaya Narkoba ini sebagai pembicara atau hanya sekedar sharing.

Ia mulai sangat tergantung pada lintingan Ganja ketika SMP, dan semakin hari semakin menambah dosis penggunaan Ganja. Koplo atau jenis obat-obatan seperti depresan, obat penenang dan lain sebagainya pun menjadi konsumsi kesehariannya selain Ganja. Kemudian berlanjut pada Sabu-sabu. “Saat SMA kelas tiga ketika saya telah jadi BD, sayapun ditawari Putaw oleh seorang teman. Awalnya saya menolak namun lama-kelamaan saya pun mencobanya,” ujar Rudhy Sinyo.

Uang yang Ia peroleh saat menjadi BD pun habis terkuras ketika Ia mulai mengenal Putaw. Bahkan Ia sampai menjual berbagai macam barang di dalam rumahnya. “Kriminal yang saya lakukan sebatas di dalam rumah,” jelasnya. Ketika akhirnya Ia kehabisan uang dan akal untuk membeli Putaw, akhirnya Ia harus merasakan sakaw dan menelantarkan kuliah semester limanya di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya, maka Ia pun menyerah dan meminta ibunya untuk membawanya ke klinik rehabilitasi.

Perjalanan tidak sampai disitu saja, hampir seluruh dokter Spesialis Kejiwaan pernah Ia datangi untuk menjalani rawat jalan terhadap ketergantungannya pada obat-obatan terlarang. Namun, perasaan dan dorongan untuk tetap 'memakai' tetaplah ada. Obat dosis rendah yang diberikan oleh dokter-dokter itu Ia minum bersamaan dengan Narkoba.


“Saya merokok mulai TK, minum anggur berlebihan ketika SD, dan Narkoba kelas 6 SD”

“Efek yang ditimbulkan lebih besar daripada Narkoba umumnya, namun konsekuensi yang saya terima pun tidak tanggung-tanggung,” jelasnya. Akibat perbuatannya itu Rudhy Sinyo overdosis. Umumnya jika seseorang overdosis, sebagian organ tubuhnya mengembang atau membesar, dan organ tubuh Rudhy yang membesar saat itu adalah kandung kemihnya. Dan Ia pun mengalami kelumpuhan di separuh badannya sehingga harus menggunakan kursi roda. Untuk buang air kecil pun Ia harus menggunakan Kateter. “Akibatnya masih dapat dirasakan hingga sekarang, susah buang air kecil atau terkadang jika sudah buang air kecil jadinya banyak sekali,” jelasnya. Ia harus menjalani terapi selama kurang lebih satu tahun.

Saat itu, kakaknya yang juga pecandu Narkoba pun mencoba untuk keluar dari lingkaran hitam. Sang Kakak mengikuti sebuah Pondok Pesantren khusus Pecandu Narkoba dan berhasil. Maka jejak sang Kakak pun diikuti oleh Rudhy Sinyo atas dorongan sang Ibu. Namun, tidak seperti halnya sang Kakak yang telah berhasil menjalani hidup normal selepas Ponpes tersebut, Rudhy Sinyo malah kembali kepada “pelukan” Narkoba, “Pagi hari saya keluar Ponpes, sorenya sudah memakai,” jelasnya mengenang hari-hari itu. Karena sikapnya tersebut, Ia pun kemudian ‘diambil’ kembali oleh pihak Pondok karena sebelumnya memang memiliki perjanjian hitam diatas putih untuk bersedia kembali ke Pondok apabila menggunakan Narkoba lagi.

“Saat itu saya ditawari tiga pilihan, mau sekolah, dibina, atau dibinasakan,” jelasnya sambil tertawa. Ia pun memilih untuk sekolah atau belajar di Ponpes. Sebagai konsekuensinya, maka Ia harus menjalani satu tahun lebih di Ponpes tanpa boleh dikunjungi atau pun pulang ke rumah.

Selepas dari Pondok tersebut, rasa rindunya terhadap kehidupan normal pun muncul. Ia berniat melanjutkan studinya yang sempat terputus di bangku kuliah dulu. Namun sang Ibu menganjurkan agar Ia mengambil sekolah di Jember, maka Ia pun sekolah di Teknik Mesin Depnaker. Setelah masa studinya di Jember selesai, maka Ia menebus rindunya pada Kota Pahlawan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi. Sayangnya, perjalanannya terputus lantaran Ia tidak sanggup menghadapi tugas-tugas yang menumpuk setiap harinya. Maka Ia memilih Universitas Narotama jurusan Hukum sehingga akhirnya bergelar Sarjana Hukum saat ini.

Dipenjara 6 Bulan

Ketika akhirnya Ia dapat menguasai kembali 70% kehidupannya yang pernah direnggut Narkoba itu, ternyata masalah tidak berhenti menerpa. Tahun 2002 Ia mengidap Hepatitis C. Dengan terpaksa Ia pun harus merogoh dompetnya untuk membiayai penyakitnya tersebut, tidak tanggung-tanggung, sebanyak 2,5 juta rupiah harus Ia habiskan seminggu sekali selama satu tahun. “Penyakit-penyakit yang mungkin dulunya tidak terasa, setelah berhenti pakai tiba-tiba bermunculan,” jelasnya.


Daya ingat yang menurun pun kerap dirasakannya akibat menggunakan Narkoba. Tidak jarang para pengguna Narkoba Jarum Suntik (Penasun) malah mengidap HIV/AIDS akibat menggunakan jarum suntik secara bergantian. “Saya juga sudah check-up dan untuk HIV/AIDS Alhamdulilah negatif,” jelasnya.

Ketika menjalani hari-harinya selama 4 tahun tanpa Narkoba, Rudhy Sinyo bertemu dengan teman-teman senasib dan rekan-rekan yang memiliki satu visi untuk memerangi Narkoba. Ia bersama teman-teman sevisinya itu pun pada tahun 2002 membangun sebuah LSM bernama Talenta. “Di dalam Talenta kami saat itu memiliki 12 point cara penanggulangan Narkoba,” ujarnya. Tetapi, satu diantaranya bermasalah karena dianggap melawan hukum dan diduga sebagai salah satu jalan untuk melegalkan pemakaian Narkoba Penasun berkedok LSM. Maka setelah dua tahun program berjalan, tiba-tiba Sekretariat LSMnya digerebek pihak yang berwajib. Akibatnya, Rudhy Sinyo harus mendekam di penjara selama 6 bulan.

Selama 6 bulan dibui, Rudhy Sinyo tidak kehilangan semangat untuk terus melanjutkan program-program LSMnya. “Banyak orang yang menganjurkan saya untuk tidak lagi berurusan dengan LSM, karena mereka melihat saya dipenjara,” ujar Rudhy Sinyo sambil mematikan rokoknya. “Tetapi kalau sudah panggilan jiwa, maka lain halnya,” lanjut Rudhy.

Maka selepas dari LP Medaeng, Ia pun membangkitkan kembali LSM Talenta, namun karena keadaan yang tidak memungkinkan maka Ia membangun LSM baru dengan semangat baru dan salah satu program baru yakni Narkoba Anonimous, yakni suatu konseling yang mengajak para pecandu untuk saling bercerita dan memecahkan permasalahan yang dimiliki. LSM barunya itu Ia beri nama LSM Orbit. Tetapi saat lima tahun lebih Ia menghabiskan waktu tanpa sentuhan Narkoba, tiba-tiba Ia harus menghadapi cobaan yang sangat berat, yakni meninggalnya sang Ibu karena penyakit kanker yang telah lama diderita. Jiwanya sempat goyah, Ia pun terjatuh kembali pada belaian Narkoba selama 3 bulan. Tetapi dengan cepat Ia meminta pertolongan dari teman-temannya di LSM. Sehingga dengan bantuan dari teman-temannya yang aktif di program Narkoba Anonimous itu, akhirnya Ia bisa kembali kuat, bukan hanya melawan Narkoba tetapi juga dalam menjalani hari-harinya hingga saat ini.

East Java Action (EJA)

Rintangan dan hadangan yang Ia hadapi tidak pernah membuatnya meratapi nasib yang telah Ia tempuh tersebut. Terbukti pada akhir 2006 setelah Ia aktif bergabung bersama LSM Bina Hati, Ia pun menginisiasi pembentukan Jaringan Korban NAPZA se-Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan IPPNI (Ikatan Persaudaraan Pengguna Narkoba Indonesia). Dalam hal ini Ia lebih menekankan kepada nasib para pengguna bukan sebagai kriminal, namun sebagai korban. “Pengguna Narkoba itu sakit, dan sebenarnya bukan penjara yang mereka butuhkan melainkan rehabilitasi,” ujarnya. Maka IPPNI yang Ia rintis ini kemudian dideklarasikan menjadi PKNI (Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia).

PKNI telah tersebar di 15 Provinsi di Indonesia, salah satunya di wilayah Jawa Timur. Untuk wilayah Jawa Timur sendiri PKNI telah berada di 6 Kota, yakni di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Madiun, Malang, dan Banyuwangi. Nama nama LSM di setiap wilayah berbeda-beda, dan untuk di Surabaya yang sebagai pusat PKNI daerah Jawa Timur, diberikan nama East Java Action (EJA).

Sekertariat EJA yang beralamat di kawasan Bratang ini pun masih terbilang sangat baru. Saat Tim eHealth mewawancari Rudhy di sekertariat EJA ini terlihat ruangan sekertariat yang masih kosong hanya dilapisi karpet hijau. Anggota inti EJA sendiri sebanyak 20 orang, tetapi untuk anggota umum sudah mencapai ratusan.

“Kami sadar, tugas kami dalam EJA akan sangat berat, tetapi semua hal itu pastilah memiliki jalan keluar,” ujar Rudhy. Ketika wawancara akan berakhir, terdengar suara dering telepon dari dalam. Sejenak Ia menjawab telepon itu dan kembali duduk dihadapan kami, “Maaf, isteri saya telepon,” ujarnya sambil tersenyum simpul. Baru beberapa hari ini Ia bersama isteri pindah kerumah yang sekaligus dijadikannya tempat kos-kosan di daerah Semolowaru. Selain sibuk di dunia LSM, ternyata sosok Rudhy ini juga senang berbisnis, hal itu terbukti karena selain memiliki bisnis kos-kosan, Ia pun memiliki usaha warnet dan juga usaha bengkel. “Berusaha memiliki hidup baru lah,” jelasnya sambil tak lupa menyimpulkan senyum.

Sebelum menutup wawancara, Pria kelahiran Nganjuk 22 Maret 1980 ini berpesan kepada orang-orang yang belum mengenal Narkoba, bahwa hanya dengan perilaku Coba-coba hidup akan berbelok drastis dari yang seharusnya. Sedangkan bagi para pengguna yang telah jatuh dalam lingkaran hitam tersebut, segeralah mencari bantuan, baik kepada sanak saudara, kerabat dekat, atau pun LSM yang aktif menangani masalah Narkoba, seperti EJA.

Bagi masyarakat sekitar yang tinggal berdekatan dengan para pengguna, hendaklah mereka menyadari bahwa pengguna juga manusia, dan mereka patut diberi dukungan atau pun kepercayaan bahwa mereka dapat kembali ke jalan yang benar. Selalu ada kesempatan dan pilihan di setiap jalan hidup yang kita tempuh, dengan dukungan dan niat yang kuat kita tidak hanya meraih kesempatan itu sendiri namun menciptakan kesempatan bagi diri sendiri maupun orang lain bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini.(fie)


http://www.surabaya-ehealth.org/content/mantan-pengguna-narkoba-yang-kini-%E2%80%9Cperangi%E2%80%9D-narkoba

pEmANFaAtAn daRi NarKObA


(Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan digunakan sebagai bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak.

Namun demikian, karena ganja juga dikenal sebagai sumber narkotika dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, orang lebih banyak menanam untuk hal ini dan di banyak tempat disalahgunakan.

Di sejumlah negara penanaman ganja sepenuhnya dilarang. Di beberapa negara lain, penanaman ganja diperbolehkan untuk kepentingan pemanfaatan seratnya. Syaratnya adalah varietas yang ditanam harus mengandung bahan narkotika yang sangat rendah atau tidak ada sama sekali.

Sebelum ada larangan ketat terhadap penanaman ganja, di Aceh daun ganja menjadi komponen sayur dan umum disajikan.

Bagi penggunanya, daun ganja kering dibakar dan dihisap seperti rokok, dan bisa juga dihisap dengan alat khusus bertabung yang disebut bong.

* Budidaya

Tanaman ini ditemukan hampir disetiap negara tropis. Bahkan beberapa negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca.

* Morfin adalah alkaloid analgesik yang sangat kuat dan merupakan agen aktif utama yang ditemukan pada opium. Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.

Kata "morfin" berasal dari Morpheus, dewa mimpi dalam mitologi Yunani.

* Kokain adalah senyawa sintetis yg memicu metabolisme sel menjadi sangat cepat.

Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman ini biasanya dikunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan “efek stimulan”.

Saat ini Kokain masih digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan, karena efek vasokonstriksif-nya juga membantu. Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotika, bersama dengan morfin dan heroin karena efek adiktif)



http://episentrum.com/search/Pemanfaatan%20narkoba

Cobalah anda menonton acara Televisi satu hari penuh, pasti banyak disiarkan kasus-kasus mengenai penyalahgunaan narkoba, ada mahasiswa yang ditangkap bahkan ada pula keluarga yang ditangkap karena mengkonsumsi narkoba dan memperjualbelikannya, "mengerikan bukan??".

Sebenarnya apa sich yang dimaksud narkoba?

Narkoba adalah semacam zat-zat kimiawi yang jika dimasukkan kedalam tubuh akan mengubah pikiran, perilaku dan suasana hati atau perasaan seseorang. kebanyakan zat dalam narkoba digunakan untuk pengobatan dan penelitian, bahkan para dokter sering menggunakannya secara tepat untuk pasiennya karena dapat menimbulkan kesembuhan jika digunakan dengan dosis yang tepat.

Truss apa sich enaknya narkoba sehingga para remaja menyalahgunakannya?

Banyak sekali penyebab para remaja menyalahgunakan narkoba. banyak juga kasus yang mencoba menggunakan narkoba karena ditawari atau mendapatkan tekanan dari teman sebayanya atau juga digunakan untuk menghindari atau melupakan masalah yang dihadapi sehari-hari, hubungan keluarga yang kurang harmonis pun dapat mendorong seseorang untuk terjerumus dalam narkoba. Jika narkoba dimasukkan kedalam tubuh manusia dengan cara apapunobat tersebut akan berinteraksi dan dapat meringankan beban pikiran penggunanya akan tetapi dapat menimbulkan ketagihan atau kecanduan dan apabila seseorang yang sudah terbiasa menggunakannya menghentikan kebiasaannya itu maka orang tersebut akan merasakan sakit kepala, pusing dll.

Apakah semua jenis narkoba itu berbahaya bagi tubuh kita?

Sebenarnya semua jenis narkoba tidaklah begitu berbahaya jika dikonsumsi secara tepat dan mengikuti petunjuk dokter akan tetapi sangat berakibat fatal jika dikonsumsi secara berlebihan, efek obatnya pun sangat berbahaya tubuh kita terutama bagian yang paling diserang adalah bagian system saraf pusat. sebenarnya narkoba tetaplah berbahaya karena akan tetap menimbulkan ketagihan bagi penggunanya jika penggunanya tersebut ketagihan maka akan membuka peluang yang sangat besar untuk menyalahgunakan narkoba tersebut.

Biasanya orang-orang yang memakai narkoba berawal dari tahap coba-coba lalu manjadi sering menggunakannya tetapi hanya kadang-kadang karena mungkin belum tahu tempat untuk mendapatkannya, jika orang tersebut sudah terbiasa maka orang tersebut akan ketagihan dan sangat sulit untuk menghilangkannya dan mereka akan terus manggunakannya karena dalam obat tersebut mempunyai efek ketergantungan yang sangat besar pengaruhnya bagi tubuh sang pengguna. Untuk manghilangkan kebiasaan tersebut tidaklah sangat mudah hal ini memakan waktu yang sangat lama dan perlu dukungan serta dorongan dari orang tua, teman dan lingkungan sekitarnya.


http://www.wikimu.com/News/DisplayNewsRemaja.aspx?id=5309

Mengingat  sudah menjamurnya  pengaruh Narkoba diberbagai kalangan maka Penanggulangan Narkoba sangatlah penting, guna untuk menjaga generasi penerus bangsa.
Cara terbaik untuk mencegah kecanduan terhadap Narkoba adalah dengan tidak mengkonsumsi kembali obat-obat terlarang, nah perlunya pihak dokter, layanan masyarakat, keluarga memberikan penjelasan secara detail efek dari obat terlarang dalam dosis berlebih terhadap tubuh kita. Nah apabila Anda perlu mengambil lebih banyak dosis diluar yang telah dianjurkan karena penyakit kambuh kembali, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter Anda.
Orang tua dapat mengambil langkah-langkah berikut dalam membantu Penanggulangan Narkoba khusus bagi anaknya :
  • Komunikasi, sering berbicara antar orang tua dan anak, dengan memberikan informasi tentang resiko penggunaan dan penyalahgunaan Narkoba atau obat-obat terlarang.
  • Dengarkan, Jadilah pendengar yang baik bagi orang tua bila anak-anak sedang berbicara mengenai tekanan antar sebaya mereka, maka anak akan mendukung dalam penolakan terhadap Narkoba.
  • Jadilah Contoh Yang baik, mencontohkan pengaruh buruk terhadap anak, khususnya ketergantungan kepada obat terlarang, akan berdampak sangat buruk bagi perkembangan hidupnya, dan efeknya akan lebih cepat untuk kecanduan Narkoba.
  • Jagalah keharmonisan keluarga, memperkuat hubungan dalam keluarga itu sangat diperlukan, karena bila anak dikucilkan dalam keluarga, maka dia akan merasa asing, sendirian dan biasanya obat terlaranglah sebagai penghilang rasa sakit yang diderita oleh si anak.
Tujuan dari program terapi kecanduan obat pada umumnya adalah agar si pasien berhenti menggunakan obat-obat terlarang secepat dan se aman mungkin, cara penanggulangan Detoxification secara bertahap akan mengurangi dosis obat atau zat kimia seperti methadone yang memiliki efek samping yang tidak terlalu parah bagi tubuh. Untuk beberapa orang, mungkin lebih aman bila menjalani proses program Rehabilitasi rawat jalan.
Beberapa bentuk penanggulanan Narkoba tambahan setelah  Detoxification :
  • Konseling ,  pasien atau keluarga melakukan konsultasi kepada psikolog, atau psikiater, nah kegiatan ini dapat membantu si pasien terhindar dari kecanduan obat-obatan, kebiasaan atau prilaku terapi yang dijalankan akan membantu si pasien apabila terjadi kambuh atau penarikan kembali terhadap obat-obatan.
  • Program Perawatan, program perawatan ini termasuk pendidikan umum dan sesi terapi yang difokuskan pada pembentukan ketenangan dan pencegahan kecanduan kembali.
  • Self help groups meeting, seperti  pertemuan kelompok khusus untuk ketergantungan obat Narkoba tingkat satu. Dengan sharing secara personal permasalahan yang terjadi dapat meningkatkan harga diri dari si pasien, sehingga dapat mencegah dari kecanduan Narkoba.
Peer Education atau Pendidikan di kalangan anak muda, telah menjadi populer di berbagai Negara sebagai metode pendidikan dan pencegahan narkoba bagi anak muda. Program ini beroperasi pada prinsip bahwa anak muda yang lebih mungkin untuk bisa menyebarkan informasi serta pendekatan lainnya dikalangan kaum muda lainnya. Pendidik dalam program ini, melatih khusus agar informasi positif bisa menyebar secara luas di lingkungan anak-anak muda.
Manfaat dari program ini secara luas berdampak positif dalam hal pengetahuan, keterampilan, pengembangan diri, sikap dan keyakinan.


http://www.ycab.org/ID/newsroom_11-2008.php

pAnDAnGan IsLaM teRhaDAp NarKobA

Para ulama dari keempat madhab's bulat setuju bahwa mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan adalah haram, tanaman tertentu juga telah termasuk sebagai Imam Rafee 'jelas mengatakan bahwa, "Para ulama telah termasuk tanaman dll memabukkan within the prohibition.' dalam larangan. "
Sejauh ini larangan obat telah dibuktikan melalui Al-Qur'an, hadits dan Ijmah (konsensus ulama). Itu lebih lanjut dapat dibuktikan dengan 'Qiyaas' (dikurangi dengan analogi) yaitu penalaran logis. Ketika seseorang mabuk (atau 'mabuk' di jalan bahasa) dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Dia dengan mudah bisa membunuh orang atau berzina dll Dengan cara yang sama, kebiasaan makan, dia akan paling mungkin harus mencuri. Ini adalah, tanpa bayangan keraguan, melanggar hukum.  Dan ada aturan umum bahwa apapun yang mengarah ke haram sesuatu (melanggar hukum) itu sendiri haram. Jadi obat telah terbukti sebagai haram oleh semua empat sumber hukum (Qur'an, hadits, Ijmah dan Qiyaas).
Apakah hukuman hukum untuk mengkonsumsi obat?
Imam Mawardee telah menekankan bahwa dengan mengkonsumsi tanaman, yang menyebabkan over-kegembiraan (keracunan 'hadd)' (yaitu hukum hukuman 80 cambukan) akan menjadi diperlukan.
Imam Qiraafi menyatakan bahwa semua ulama pada periode ini telah sepakat bahwa konsumsi adalah haram. Namun, ada perbedaan pendapat seperti apa (hukuman) menjadi incumbent dengan obat; baik hadd karena intoxicates atau tazir (teguran) karena merusak pikiran.
Selain itu, dalam bukunya Az-Zakheera ia menyatakan hadd atau tazir akan dikenakan.
Menurut tiga Imaams terkemuka (Imam Shafee ', Imam Malik dan Imam Ahmad) apa-apa memakan memabukkan betapapun kecilnya jumlah akan membawa hukuman hukum 80 cambukan kepada orang tersebut.
Namun, dalam madhab Hanafi dalam Fatawa Al-Khulasa lil-Hanafiyyah 'disebutkan:
Jika jumlah yang memabukkan telah diambil kemudian menurut Imam Muhammad hadd akan diperlukan dan menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Yusuf ia akan ditegur keras, tapi hadd tidak akan dikenakan.
Tazir (teguran) adalah suatu hukuman yang tidak memiliki jumlah khusus dan itu untuk Hakim untuk memutuskan.
Ingatlah bahwa menurut sebagian ulama, dalam kasus-kasus tertentu, tazir bisa terbukti lebih parah daripada hadd sendiri misalnya Ketika orang yang terus-menerus melakukan kejahatan.
Kesimpulan:
Obat diharamkan. Hal ini diperlukan untuk menjauhkan diri dari mereka. Mereka merusak kehidupan orang-orang yang secara fisik, mental, moral dan spiritual. Jika ada yang terlibat dengan obat-obatan mereka harus segera berhenti dan mencari bantuan.
Semoga Allah membantu dan melindungi kita semua. Amien


http://www.scribd.com/doc/3718118/NARKOBA

VIDiO TeNTaNG nARkOBa




http://www.youtube.com/watch?v=3sktsh1VS7s

Salah satu persoalan besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia, dan juga bangsa-bangsa lainnya di dunia saat ini adalah seputar maraknya penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba), yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Saat ini, jutaan orang telah terjerumus ke dalam ‘lembah hitam’ narkoba. Dan ribuan nyawa telah melayang karena jeratan ‘lingkaran setan’ bernama narkoba. Telah banyak keluarga yang hancur karenanya. Tidak sedikit pula generasi muda yang kehilangan masa depan karena perangkap ‘makhluk’ yang disebut narkoba ini.

Padahal, kita semua mafhum bahwa pondasi utama penyokong tegaknya bangsa ini dimulai dari keluarga. Ketika keluarga hancur, rapuh pula bangunan bangsa di negeri ini. Selanjutnya, keberlangsungan kehidupan suatu masyarakat, bangsa dan negara, ditopang oleh hadirnya generasi penerus, yakni generasi muda. Jika generasi muda sudah kehilangan masa depan, gamang menatap hidup, lantas apalagi yang bisa diharapkan bagi kehidupan bangsa ini di masa yang akan datang?

Untuk itu, melalui tulisan singkat ini penulis ingin urun rembug dalam menyikapi persoalan seputar maraknya penyalahgunaan narkoba, dan bagaimana solusi untuk menghadapinya. Narkoba, The Common EnemyBisa dikatakan, selain korupsi, saat ini yang menjadi musuh bersama (the common enemy) bangsa Indonesia adalah narkoba. Dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan narkoba, baik secara fisik, psikis, sosial, ekonomi, budaya, dan moral yang tampak jelas hadir di hadapan kita adalah alasan kuat mengapa ‘barang haram’ tersebut menjadi musuh bersama masyarakat negeri ini.

Munculnya generasi ‘junkies’ yang gamang menatap hidup, tingginya angka penderita virus HIV/ AIDS yang mematikan, dan sederet persoalan sosial lainnya siap menghadang bangsa ini, sebagai akibat dari semakin meningkatnya jumlah pemakai narkoba.

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2006, penyalahgunaan dan peredaran narkotika menyentuh 1,5 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 3,2 juta orang. Sebanyak 69 persen dari jumlah itu atau 2.208.000 orang adalah pengguna teratur. Sisanya, sekitar 31 persen atau 992.000 orang, tergolong pecandu. (Kompas, 23/4/2007)

Sedangkan angka kematian akibat penggunaan narkoba mencapai 1,5 persen dari pecandu per tahun atau sekitar 15 ribu orang. (www.liputan6sctv.com)


Jumlah angka kematian yang rlatif tinggi ini, sebagian besar akibat narkoba suntik. Data The Centre for Harm Reduction (CHR) dan Asian Harm Reduction Network (AHRN) menyatakan, pemakaian dan penyuntikan narkoba meningkat di seluruh dunia, melibatkan 20 juta orang di 128 negara. Negara-negara berkembang terutama di Asia selatan, Asia Tenggara, dan Amerika latin adalah tempat terjadinya perubahan tercepat.

Kenyataan lain menyebutkan bahwa tingginya pemakaian narkoba suntik memicu peningkatan jumlah pengidap HIV/AIDS. Dalam konteks Indonesia, pada tahun 2002, dari 110.000 orang pengidap HIV/AIDS, 42.000 di antaranya adalah pengguna narkoba suntik. (Adi Prinantyo, Kompas Cyber Media (KCM), 2002)

Sejumlah data di atas tentu membuat miris serta mengkhawatirkan kita semua, akan seperti apa kondisi bangsa ini ke depan jika anak bangsanya telah terjerumus ke dalam jeratan narkoba?

Dalam pandangan penulis, kondisi masyarakat seperti ini, jika dibiarkan berlarut-larut akan menjadi preseden buruk bagi kehidupan bangsa ini ke depan. Karena dampak negatif narkoba, selain berakibat buruk bagi kondisik fisik dan psikis seseorang, juga akan menghadirkan distorsi terhadap nilai-nilai kemanusiaan, terjadi dehumanisasi yang disebabkan oleh kapasitas intelektual, mental dan jiwa yang tidak siap untuk mengarungi samudera kehidupan global yang sarat tantangan ini.

Singkatnya, fenomena ini jika tidak segera ditangani akan melahirkan ekses negatif bagi kehidupan bangsa ini di masa yang akan datang.

Menyikapi kondisi yang memprihatinkan ini, hendaknya disadari oleh segenap elemen bangsa, bahwa narkoba merupakan ‘musuh bersama’ (the common enemy) yang harus diperangi oleh semua kalangan. Dalam hal ini, peran serta masyarakat untuk bahu membahu bersama pemerintah melawan narkoba adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Solusi Dalam hal ini, penulis mengelompokkan solusi atas persoalan narkoba ini ke dalam dua komponen penting penyelenggara negara ini, yaitu pemerintah dan masyarakat.

1. Peran Pemerintah.
Hemat penulis, solusi yang bisa ditawarkan pemerintah atas persoalan narkoba ini adalah sebagai berikut :

Pertama, tindakan preventif. Yaitu berupa penyuluhan, seminar, workshop, pelatihan dan sejenisnya tentang narkoba dan bahayanya ke sejumlah sekolah, perguruan tinggi serta masyarakat secara luas. Dengan demikian, masyarakat menjadi mafhum akan bahaya serta dampak negatif narkoba. Cara alternatif lain yang juga bisa dilakukan dalam upaya preventif ini, adalah dengan menciptakan Iklan Layanan Masyarakat tentang bahaya narkoba yang ditayangkan oleh sejumlah stasiun televisi di negeri ini.

Kedua, tindakan represif. Yaitu berupa upaya rehabilitasi bagi mereka yang sudah terlanjur menjadi pemakai atau bahkan pecandu narkoba. Dalam hal ini, pemerintah perlu menambah jumlah pusat rehabilitasi bagi para pengguna narkoba, seiring meningkatnya jumlah penyalahguna barang haram tersebut. Dalam proses pelaksanaan reabilitasi tersebut, pemerintah hendaknya menjalin kerjasama yang baik dengan tim medis, psikolog, psikiater dan agamawan. Sehingga proses rehabilitasi akan berjalan lancar. Dengan demikian, bahaya serta dampak buruk penyalahgunaan narkoba dapat dieliminasi sedini mungkin.

2. Peran Masyarakat
Adapun solusi alternatif yang dapat dilakukan oleh masyarakat (Non-pemerintah) dalam mengatasi masalah narkoba ini, adalah dengan menggunakan beberapa pendekatan yang diterapkan kepada mereka, baik yang belum ataupun yang sudah terjerat belitan narkoba. Beberapa pendekatan yang penulis maksud adalah sebagai berikut :

Pertama, pendekatan agama (religius). Melalui pendekatan ini, mereka yang masih ‘bersih’ dari dunia narkoba, senantiasa ditanamkan ajaran agama yang mereka anut. Agama apa pun, tidak ada yang menghendaki pemeluknya untuk merusak dirinya, masa depannya, serta kehidupannya. Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, baik pada dirinya, keluarganya, maupun lingkungan sekitarnya. Sedangkan bagi mereka yang sudah terlanjur masuk dalam kubangan narkoba, hendaknya diingatkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama yang mereka yakini. Dengan jalan demikian, diharapkan ajaran agama yang pernah tertanam dalam benak mereka mampu menggugah jiwa mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Kedua, pendekatan psikologis. Dengan pendekatan ini, mereka yang belum terjamah ‘kenikmatan semu’ narkoba, diberikan nasihat dari ‘hati ke hati’ oleh orang-orang yang dekat dengannya, sesuai dengan karakter kepribadian mereka. Langkah persuasif melalui pendekatan psikologis ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran dari dalam hati mereka untuk menjauhi dunia narkoba. Adapun bagi mereka yang telah larut dalam ‘kehidupan gelap’ narkoba, melalui pendekatan ini dapat diketahui, apakah mereka masuk dalam kategori pribadi yang ekstrovert (terbuka), introvert (tertutup), atau sensitif. Dengan mengetahui latar belakang kepribadian mereka, maka pendekatan ini diharapkan mampu mengembalikan mereka pada kehidupan nyata, menyusun kembali kepingan perjalanan hidup yang sebelumnya berserakan, sehingga menjadi utuh kembali.

Ketiga, pendekatan sosial. Baik bagi mereka yang belum, maupun yang sudah masuk dalam ‘sisi kelam’ narkoba, melalui pendekatan ini disadarkan bahwa mereka merupakan bagian penting dalam keluarga dan lingkungannya. Dengan penanaman sikap seperti ini, maka mereka merasa bahwa kehadiran mereka di tengah keluarga dan masyarakat memiliki arti penting. Dengan beberapa pendekatan di atas, diharapkan mampu menggerakkan hati para remaja dan generasi muda yang masih ‘suci’ dari kelamnya dunia narkoba untuk tidak larut dalam trend pergaulan yang menyesatkan. Dan bagi mereka yang sudah tercebur ke dalam ‘kubangan’ dunia narkoba, melalui beberapa pendekatan tersebut, diharapkan dapat kembali sadar akan arti penting kehidupan ini, yang amat sayang jika digadaikan dengan kesenangan yang nisbi.

Dengan demikian, jika pemerintah dan masyarakat menjalankan fungsi dan perannya dengan baik, niscaya upaya memerangi narkoba serta menyelamatkan bangsa Indonesia dari “bahaya mematikan” narkoba akan menemui titik terang.

http://www.tempointeraktif.com/share/?act=TmV3cw==&type=UHJpbnQ=&media=bmV3cw==&y=JEdMT0JBTFNbeV0=&m=JEdMT0JBTFNbbV0=&d=JEdMT0JBTFNbZF0=&id=MzA3

PeraN oraNg TErdEKaT saNGat PenTInG

Kepala Kesatuan Bangsa Politik Kesbang Pol Pemkab Padang Pariaman Drs Amin Sardi mengimbau semua kalangan di Padang Pariaman untuk menyelamatkan generasi muda di daerah ini dari berbagai bahaya narkoba dan obat obatan terlarang lainnya.

Hal itu tegasnya dapat mengancam masa depan serta mental generasi muda. "Para orang tua mestinya harus lebih meningkatkan kepeduliannya dalam mengontrol pergaulan anak anak mereka mulai dari rumah masing masing, jangan sampai nantinya mereka terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba atau obat obatan terlarang lainnya, makanya peran orangtua harus lebih ditingkatkan," tegas Amin Sardi.

Lebih jauh ditegaskan Amin Sardi, belajar dari pengalaman yang ada, para generasi muda memang termasuk rawan terhadap praktik penyalahgunaan narkoba atau obat obatan terlarang lainnya, makanya jika hal ini tidak segera diantisipasi sedini mungkin termasuk dari rumah tangga masing masing, maka bisa saja akan semakin banyak generasi muda yang akan jatuh menjadi korban.

Selain kontrol orangtua di rumah tangga, peran Ninik Mamak dan tokoh masyarakat lainnya juga sangat diharapkan sehingga generasi muda di daerah ini bisa terhindar dari penyalahgunaan narkoba dan sejenisnya. Demikian pula dari bahaya minuman keras atau sejenisnya.

Intensifkan Patroli

Di sisi lain Kepala Satpol PP Padang Pariaman Drs Rosihan Anwar terpisah kepada Padang Ekspres (Group Padang-Today) menegaskan, untuk mengintensifkan kegiatan patroli dan razia terhadap berbagai bentuk penyakit masyarakat termasuk penggunaan narkoba minuman keras dan sejenisnya. Menurutnya, dengan semakin intensifnya kegiatan patroli terutama di sejumlah lokasi yang dianggap rawan dalam hal penggunaan minuman keras dan obat obat terlarang lainnya, diharapkan akan lebih mempersempit ruang gerak dari para pelaku.

"Karena terbukti dari beberapakali kegiatan patroli yang kita lakukan, ternyata petugas berhasil mengamankan sejumlah pelaku yang sedang mengkonsumsi minuman keras, makanya kegiatan patroli akan terus kiua intensifkan sehingga Padang Pariaman benar benar bersih dari berbagai praktik penyakit masyarakat," tegasnya. [*]

http://eleng.net78.net/?Peranan_Orang_Tua_Dalam_Mencegah_Anak_Terlibat_Narkoba

Download

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More